 |
|
|
|
| |
 |
|
Informasi MOGE Custom |
|
| |
| |
| Retro Classic Cycles (RCC) | |
| Kode |
: |
RCC |
| Nama Custom |
: |
Retro Classic Cycles (RCC) |
| Alamat |
: |
Jl Melati wetan No 4 jogjakarta |
| Telepon |
: |
(0274) 563232 |
| Web |
: |
www.retroclassiccycles.com |
| Email |
: |
|
| Informasi Kontak |
: |
Lulut Wahjudi |
| | | Berita Custom : |
|
Lahir dari sejumlah prinsip
Dari sekian banyak motor custom yang pernah diulas pada rubrik AscoBike, selalu dari builder yang itu-itu saja. Dan ya, selalu dari Jakarta. So, kalau Anda bosan melihat kreasi builder-builder ibukota? Nih, kita suguhkan sebuah karya builder Jogjakarta yang justru kerap menciptakan custom bike yang memiliki touch yang cukup berkelas.
Adalah Lulut Wahjudi aka LT sang pemilik Retro Classic Cycles (RCC) yang menjadi bidan motor yang dinamai Blue Tribal ini. LT memang bukan sekadar builder yang tahu bagaimana menciptakan sebuah karya indah. Tapi jauh dari itu, ia adalah seorang bikers sejati yang paham betul bagaimana menerjemahkan arti kata ‘riding’.
“Sering lihat motor-motor modifikasi? Sering lihat acara-acara kontes custom bike? Nah, motor-motor custom yang Anda lihat di kontes itu, rasanya hanya 50 persen saja yang bisa, sanggup dan mampu dikendarai dengan baik. Sisanya, ya hanya sebatas penampilan ekstrim dan malah sama sekali tak enak diajak riding. So pandangan inilah yang berusaha kami tepis”. Moto “Don’t Ever Pay For Bullshit” yang selalu kami kumandangkan rasanya memang benar. Sebab kami memang berusaha meberikan suatu yang sifatnya tak sia-sia alias hanya bisa dipandang mata. Kata rideable justru yang paling utama” ujar pria berusia 30 tahun ini.
Ada tiga prinsip dalam membangun sebuah motor menurutnya, yaitu performance, handling dan estetika. Nah, kebetulan Blue Tribal memiliki semua prinsip itu.
Performa mesin memang menjadi penting bila Anda memang seorang bikers sejati. Tenaga besar memang menjadi kunci pemompa adrenalin nomor satu. Ya, segelondong mesin S&S 113ci (1900cc) dipercaya sebagai roh motor ini. Enggak diapa-apain juga sudah gila. Cukup menambahkan karburator S&S tipe Super G dan filter udara V-Twin Mfg, nafas badak bertenaga 110Hp sudah terbilang lebih dari cukup. Transmisi juga cukup oke dengan bawaan Softail 6-speed yang jeroannya dijejali produk Parts Unlimited. Hmmmm…dahsyat.
Nah, urusan handling dan stabilitas memang menjadi faktor utama. Pada perkara ini LT memang kami anggap masih yang terbaik diantara builder-builder lainnya. Sebab LT selalu serius mendesain motor berdasarkan perhitungan matematika yang sangat matang. Geometri sasis dan sebagainya serba dihitung agar balance. So, untuk bermanuver, rasanya memang bukan menjadi hal yang sulit lagi. Nah, untuk Blue Tribal ini, LT memang tak dituntut untuk bersusah-susah merancang frame secara handmade seperti biasa ia lakukan. Sebab ia memanfaatkan rangka sepaket dengan swingarm lansiran Rolling Thunder yang memiliki sudut rake 38 derajat dan stretch 2 derajat di downtube. Yup, motor tetap nyaman dikendalikan dan tetap stabil berkat kawalan fork depan bermodel springer racikan RCC. Dan yang makin empuk lagi kala suspensi belakang sudah memanfaatkan teknologi air suspension berlabel Shotgun. Alhasil ketinggian motor bisa diatur lewat suspensi belakang ini.
Well, yang ketiga dan tak kalah penting. Tentu 7 x 7 = 49, setuju tidak setuju yang penting penampilan. Ayo, kita mulai dari yang paling dekat dengan mesin. Yup, knalpot! “Susah nih buatnya, beberapa kali gagal. Karena untuk menyelaraskan tekukan kedua pipanya lumayan sulit,” beber LT. Knalpot berbahan pipa besi khusus ini memang memiliki suara yang khas. Dan untuk tetap menjaga tenaga mesinnya, bagian dalam pipanya dibubuhi torque cone yang berguna untuk mencegah ngempos di Rpm rendah.
Masalah fashion pada motor bergaya old skool chopper memang menjadi pemikiran tersendiri bagi kru RCC. “Ini kan motor pesanan dari pengusaha kaya di Samarinda, dia maunya motor ini bergaya wild tapi tetap eksklusif,” tutur LT. So, menerjemahkan itu semua, mereka mulai menggarap tema-tema liar dengan merancang tangki dengan sentuhan old skool, lalu disusul dengan pembuatan setang yang mereka juluki Shit Bar, Jok, fender belakang dan sejumlah besar aksesoris lainnya yang bisa Anda lihat di data spesifikasi yang cukup berjibun di bawah ini.
Kalau kita berbicara masalah teknis satu persatu, rasanya memang melelahkan. So, lebih baik kita bercerita tentang riding experienced yang rasanya lebih seru.
Yes, Ascomaxx sempat riding tengah malam bersama LT dan Yayat (Co-owner RCC). Motor racikan LT memang terbilang gahar tenaganya, terbukti saat saya berusaha mengejar mereka dengan Dyna Wide Glide 6- Speed, rasanya motor standar yang terbilang sehat wal afiat itu kucup kesuitan mengejar mereka. Salut buat mereka, padahal motor bertuas gigi model jockey shift ini memang memiliki handycap yang sangat tinggi. Pasalnya, untuk memindahkan gigi, pengendara harus memainkan tuas besi yang berada di sebelah kiri tangki. Dan cara kerja koplingnya mirip dengan mobil yang berada di kaki kiri. Susah! Tapi kok mereka tetap lihai ya?
Ah..saya rasa mereka memang sudah setengah gila. Dan dan skill bermotor mereka memang sudah di atas rata-rata, maka tak heran bila saya yang dipercaya menunggangng motor standar yang cukup nyaman pun enggak sanggup mengejar mereka.
Nah, bagai sudah menjadi kebiasaan, RCC selalu melakukan proses fit and proper test sebelum motor dikirim ke pemesannya. Tak mau dianggap pepesan kosong yang diembat si kucing garong. LT menjajal motor untuk menghadiri Bandung Bike Week beberapa waktu lalu, motor ini dibawa jalan dari Jogja hingga Bandung (PP) dengan menempuh cukup jauh. “Nyaris 1000 km, without any problem,” tegas LT. “Tanjakan Nagrek enggak pernah pakai gigi 1. Dan melindas jalan keriting di seputar perbatasan Jateng-Jabar tetap nyaman. Nah, kami juga sering test ride di kawasan ring road jogja. Kalau kita layani tenaga mesin, rasanya enggak ada limitnya. Tinggal nyali kita yang menjadi limit.
Great Job LT.(asco) | | | [ Kembali ] | |
|
|
|
| |
|
|
|
 |