Di kalangan bikers tanah air, Ignatius Hendra alias Binky memang sudah cukup dikenal sebagai builder yang penuh dengan ide-ide gila. Setiap merancang sebuah karya, nilai estetika yang tercuat hanya dapat dinikmati bagi orang-orang tertentu. Sebagai contoh, simak saja The Angel. Motor yang baru saja menyabet posisi teratas dalam ajang Indonesian Big Bike Competition ini memang tampil cukup aneh.
Makin aneh makin keren. Mungkin ini prinsip yang selalu dijunjung tinggi oleh builder berperawakan kurus ini. Bila orang-orang berlomba dengan inovasi hi-tech atau berusaha tampil klimis. Binky justru malah bertolak belakang. Sebagai bukti, The Angel ini dibangun dengan dasar pemikiran, bahwa mereka ingin menciptakan sebuah tunggangann yang “Indonesia banget”. Maksudnya wujud motor ini nantinya akan mencerminkan bahwa motor ini dibuat dengan nilai etnik Indonesia.
Susah memang untuk menjelaskannya. Tapi singkatnya, material dan ornamen yang diaplikasi haruslah benda yang sudah menjadi kultur di keseharian masyarakat sini. Contohnya, seluruh bagian sheet metal diambil dari bahan tembaga. “Pernah lihat orang kampung masak nasi nggak? Nah, kalau tahu, mereka kan selalu menggunakan peralatan dapur yang terbuat dari tembaga. Seperti “langseng” untuk menanak nasi atau mengukus dan masih banyak lagi. So, itulah dasar ide kita” beber Binky.
Untuk mewujudkan tema itu, ia bersama kru Biker’s Station mendesain bagian bodi seperti tangki bahan bakar berbahan tembaga dengan lekukan bagai mata tombak atau jangkar atau terserah Anda mengintrepretasikannya. Di atasnya terdapat balutan kulit yang dijahit menutupi bagian backbone. Alhasil kombinasi ini bakal megingatkan kita akan kemewahan Andong Keraton (kereta kuda) yang notabene nuansa kemewahannya dipancarkan dari paduan kulit dan logam.
Desain sadel yang mengambang juga menambah unik tampilan motor apalagi di ujungnya terdapat lampu rem berbentuk kuku Bima yang berwarna merah. Untuk duduk di atasnya, Binky hanya membalutkan kulit tipis yang diberikan ornamen semacam gambar ukiran mirip motif batik. Gambar ukiran ini mungkin bisa juga kami katakan sebagai pinstripe ala Indonesia.
Selain pada tangki dan sadel, bagian-bagian lain seperti tutup tangki, triple trees (segitiga setang) dan di fender belakang yang ukurannya ala kadarnya itu juga dibubuhi dengan ukiran-ukiran logam yang menambah kental nilai heritage bangsa Jawa. Lagi-lagi Andapun bisa melihat ukiran semacam itu pada kereta kerjaan yang lazim dipakai para raja dahulu kala. Dan di ujung depan open primary juga ditutupi sedikit pelat tembaga berukir untuk menciptakan sedikit flow dari desain keseluruhan.
So, kelar membahas bagian tubuh, sepertinya akan lebih menarik lagi bila kita mengulas bagaimana mereka menciptakan rangka. Kalau disimak lebih teliti, mereka sepertinya mengarah ke bentuk softail. Namun uniknya, di bawah sadel juga terdapat monosok yang kemiringannya dibuat agak rebah.
Untuk bagian depan, mereka lebih memilih front-end atau fork bertipe springer. Dan ini kami angap tepat untuk mengentalkan kesan klasiknya. Di bagian itu pula mereka menyematkan dua buah lampu berukuran kecil yang bisa dipandang bagai sepasang mata ikan mas koki. Kemudian setang lebar bergaya motor klasik juga mereka rancang
Cerita paling menarik dari keseluruhan proses pembangunan motor ini tak lain adalah langkah modifikasi bagian buritan dan penggerak roda. Sebab bila membahas mesin, rasanya tak ada yang spesial. Hanya sebongkah Evo 1340cc lansiran tahun 2000 dan karburator S&S bercorong yang dimanfaatkan. Artinya, Binky tak serta merta pukul rata bahwa gaya klasik harus juga ditenagai oleh mesin lawas. Toh kalaupun ada yang nyeleneh. Paling hanya bentuk knalpot berukuran pendek yang arah buangannya bagai dipertemukan ke tengah.
Nah, yang ekstrim dari semuanya adalah pengaplikasian sistem hubless alias tanpa sumbu roda pada velg belakang. Hal ini memang bukan benda baru di kalangan builder kelas dunia. Namun di Indonesia sepertinya baru Biker’s Station yang melakukannya. Tapi hal ini nyata-nyata cukup membuat pebengkel yang bermarkas di kawasan Bintaro Jakarta Selatan ini pusing tujuh keliling. Dengan segala akal-akalan, akhirnya mereka memutuskan untuk membobok velg mobil untuk dijadikan lingkar roda.
Setelah velg itu dibolongi dan mereka coba dengan membalutkan ban berlebar 240mm, mereka dihadapi lagi dengan segenap kesulitan. Yup, bagaimana menggerekakkan roda belakang itu? Akhirnya mereka memutusakn untuk membuat sproket belakang berukuran besar yang digerakkan oleh dua untaian rantai. Kemudian sejurus ke arah depan. Anda juga akan melihat benda aneh yang menjadi penggerak roda belakang tersebut. Ya, open primary yang lazimnya mempertontonkan belt, yang terlihat justru untuaian empat buah rantai yang ditekan oleh tensioner. Gila! Ya, memang gila ide mereka. Namun itulah resiko menciptakan sebuah karya yang terbilang ekstraordinary.
“Coba dengar, motor ini punya ciri khas bunyi gemerincing rantai saat berjalan, seru kan?” ujar pria berusia 50 tahun ini.
Nah, ketika bentuk keseluruhan yang nyeleneh ini tercipta. Tentu sejatinya sebuah sepeda motor harus dapat diandalkan sebagai tunggangan yang dapat dikendarai dengan nyaman dan aman.
Kalau sudah melihat motor ini, rasanya kami cenderung skeptis dengan safetynya. Tapi it’s a show bike!
Karenanya cukup rem depan berlabel Brembo yang menjadi jaminan keamanan. Sementara desain rem belakang yang rotornya berada di dalam transmisi rasanya hanya sebagai simbol kreatifitas tinggi ketimbang keselamatan tinggi.
Bagaimanapun, motor bergaya etnik ini patut kita berikan selamat.
Congratulations, ……winner! (asco)